Lebih Tinggi dari GWK, Monumen Reog Ponorogo Butuh Rp 88,8 Miliar Lagi Belum Selesai Sejak 2023, Duit Darimana?
- Tiktok @ekomulyadi_karangpatihan
Sementara tahun-tahun berikutnya yaitu 2028 hingga 2030 membutuhkan Rp 23 miliar, Rp 3 miliar, dan Rp 3 miliar berturut-turut. Meski begitu, Kang Giri menegaskan bahwa tidak seluruh kebutuhan dana akan dibebankan kepada APBD.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo tengah menjajaki opsi pendanaan alternatif dari pihak ketiga untuk menutup kekurangan anggaran tersebut. Skema kerjasama antara pemerintah dan swasta (KPBU) atau CSR dari BUMN dan perusahaan besar nasional menjadi salah satu opsi yang sedang dikaji agar pembangunan MRMP tidak membebani fiskal daerah secara berlebihan.
Lebih dari sekadar monumen megah, MRMP ditargetkan menjadi pusat kebudayaan, edukasi, dan wisata unggulan di Jawa Timur yang mampu menggerakkan ekonomi warga sekitar. Pemerintah daerah berharap kehadiran monumen setinggi 126 meter ini akan menjadi magnet wisata baru, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), menciptakan lapangan kerja, dan menjadi landmark nasional yang membanggakan warga Ponorogo.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Monumen Reog dan Museum Peradaban diharapkan dapat dibuka untuk umum pada awal dekade mendatang.
Selain menjadi simbol kejayaan budaya Reog, monumen ini sekaligus menjadi bukti bahwa daerah pun mampu menghadirkan karya kolosal dengan dampak ekonomi dan sosial jangka panjang.