Benarkah Iran-Israel Bisa Picu Perang Dunia III? Sejarah Pernah Hampir Sampai ke Titik Itu

Ilustrasi perang Nuklir
Sumber :
  • Pixabay

Akibatnya, Uni Soviet menaikkan kesiagaan militernya dan bahkan menyiapkan peluncuran senjata nuklir sebagai langkah antisipasi. Dunia tidak menyadari betapa dekatnya dengan bencana hingga dokumen-dokumen rahasia dibuka puluhan tahun kemudian. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kesalahpahaman dalam komunikasi dan asumsi dapat berujung pada tragedi global jika tidak ditangani dengan hati-hati.

Presiden RI Siap Melakukan Pertemuan Bilateral dengan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney

4. Insiden Norwegia (1995)

Pada Januari 1995, Norwegia meluncurkan roket penelitian atmosfer yang sah dan telah diumumkan sebelumnya. Sayangnya, radar Rusia mendeteksi roket tersebut dan menganggapnya sebagai rudal nuklir yang ditembakkan dari kapal selam. Alarm pun berbunyi di Kremlin, dan Presiden Boris Yeltsin diberikan koper nuklir yang berisi kode peluncuran.

Langkah Berani Prabowo di PBB: Indonesia Akan Akui Israel Setelah Palestina Merdeka

Yeltsin adalah pemimpin Rusia pertama yang mengaktifkan sistem peluncuran nuklir dalam situasi nyata. Beruntung, analisis lanjutan menunjukkan bahwa objek tersebut bukanlah ancaman, dan peluncuran balasan dibatalkan. Meskipun insiden ini tidak setenar Krisis Kuba, namun peristiwa ini menjadi contoh nyata bagaimana miskomunikasi teknologi bisa membuat dunia berada di tepi kehancuran.

5. Konflik India–Pakistan (1999)

UEFA Siap Voting 23 September 2025: Israel Terancam Didepak dari Sepak Bola Eropa!

Perang Kargil meletus ketika pasukan Pakistan menyusup ke wilayah Kashmir yang dikuasai India. Konflik ini melibatkan dua negara yang sama-sama memiliki senjata nuklir dan sejarah panjang ketegangan. Meski perang berlangsung dalam skala terbatas, kekhawatiran dunia meningkat karena adanya indikasi bahwa Pakistan siap menggunakan senjata nuklir jika keadaan memburuk.

Situasi diperparah oleh ketegangan politik dan tekanan publik di kedua negara. Namun, upaya diplomatik intensif, terutama dari Amerika Serikat dan komunitas internasional, berhasil meredakan ketegangan. India merebut kembali wilayah yang diduduki, dan Pakistan menarik pasukannya. Perang Kargil menjadi pengingat betapa pentingnya diplomasi dalam mengelola konflik antara negara bersenjata nuklir.

Pada akhirnya, sejarah sudah mengajarkan bahwa dunia pernah berdiri di tepi jurang, tapi berhasil mundur selangkah. Krisis datang silih berganti, tapi akal sehat dan diplomasi selalu punya peluang untuk menang.

Semoga kali ini pun demikian. Karena seberapa keras konflik terjadi, dunia selalu punya alasan untuk memilih damai. Toh, tidak ada yang benar-benar menang dalam perang—kecuali mereka yang berhasil mencegahnya.