Kejengkolan: Benarkah Jengkol Bahaya? Fakta Medis dan Jaga Ginjalmu Saat Makan Jengkol

Ilustrasi Jengkol
Sumber :
  • Instagram
Menang 3-0 atas Israel, Italia Hidupkan Asa ke Piala Dunia 2026

Faktor genetik dan kondisi hidrasi tubuh juga sangat berpengaruh.

Meluruskan Mitos dan Fakta Seputar Jengkol

Soundvolution Disorot: Refund Konser Denny Caknan di Pekalongan Tak Kunjung Cair, Penonton Teriak Kecewa

Banyak anggapan salah tentang jengkol yang perlu diluruskan:

Mitos: Jengkol pasti bikin gagal ginjal. Fakta: Tidak selalu. Jengkol relatif aman jika dikonsumsi dengan bijak dan tubuh cukup cairan.

Trans7 Temui Alumni Lirboyo, Janji Buat Tayangan Spesial di Hari Santri Nasional 2025

Mitos: Jengkol beracun karena baunya. Fakta: Bau khas jengkol berasal dari senyawa sulfur, bukan racun. "Bau bukan indikator toksisitas," kata Dr. Davison.

Mitos: Kejengkolan pasti terjadi kalau makan jengkol. Fakta: Tidak. Banyak orang bisa makan jengkol tanpa masalah, tergantung cara memasak dan kondisi tubuh.

Tips Aman Menikmati Jengkol

Anda tetap bisa menikmati jengkol dengan beberapa trik:

  • Rebus dua kali dan buang air rebusannya: Ini dapat membantu mengurangi kadar asam jengkolat.
  • Rendam semalaman: Proses perendaman membantu menguraikan senyawa kristal.
  • Jangan makan berlebihan: Konsumsi dalam porsi kecil jauh lebih aman.
  • Konsumsi air putih yang cukup: Sebelum dan setelah menyantap jengkol, pastikan untuk banyak minum air putih agar tubuh lebih mudah mengeluarkan asam jengkolat. 
  • Kenali respons tubuh: Jika Anda pernah mengalami kejengkolan, sebaiknya hindari jengkol.

Dr. Davison menyarankan untuk memperlakukan jengkol sebagai makanan dengan potensi iritasi tinggi dan mengonsumsinya secara moderat. "Jangan dijadikan makanan sehari-hari, tapi tak perlu juga dimusuhi," ujarnya.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Kejengkolan?

Jika Anda merasakan nyeri setelah makan jengkol, jangan panik, tetapi jangan juga diabaikan.

Langkah awal di rumah:

  • Minum air putih sebanyak mungkin (lebih dari 2 liter/hari).
  • Hindari konsumsi obat antinyeri bebas sembarangan, terutama NSAID seperti ibuprofen.
  • Kompres hangat area perut bawah jika nyeri.

Segera ke dokter jika muncul gejala seperti:

  • Tidak bisa buang air kecil sama sekali.
  • Urine berdarah pekat.
  • Mual, muntah, atau demam.

Di rumah sakit, penanganan biasanya meliputi pemberian cairan infus, obat anti-inflamasi dan peluruh kristal, kateterisasi untuk membuka sumbatan, atau dalam kasus berat, tindakan operasi kecil.

Halaman Selanjutnya
img_title