Kejengkolan: Benarkah Jengkol Bahaya? Fakta Medis dan Jaga Ginjalmu Saat Makan Jengkol
- Orang dengan gangguan metabolisme atau kadar asam urat tinggi.
- Mereka yang kurang minum air putih.
- Individu dengan riwayat batu ginjal.
- Anak-anak atau orang tua yang daya filtrasi ginjalnya lebih lemah.
Faktor genetik dan kondisi hidrasi tubuh juga sangat berpengaruh.
Meluruskan Mitos dan Fakta Seputar Jengkol
Banyak anggapan salah tentang jengkol yang perlu diluruskan:
Mitos: Jengkol pasti bikin gagal ginjal. Fakta: Tidak selalu. Jengkol relatif aman jika dikonsumsi dengan bijak dan tubuh cukup cairan.
Mitos: Jengkol beracun karena baunya. Fakta: Bau khas jengkol berasal dari senyawa sulfur, bukan racun. "Bau bukan indikator toksisitas," kata Dr. Davison.
Mitos: Kejengkolan pasti terjadi kalau makan jengkol. Fakta: Tidak. Banyak orang bisa makan jengkol tanpa masalah, tergantung cara memasak dan kondisi tubuh.
Anda tetap bisa menikmati jengkol dengan beberapa trik:
- Rebus dua kali dan buang air rebusannya: Ini dapat membantu mengurangi kadar asam jengkolat.
- Rendam semalaman: Proses perendaman membantu menguraikan senyawa kristal.
- Jangan makan berlebihan: Konsumsi dalam porsi kecil jauh lebih aman.
- Konsumsi air putih yang cukup: Sebelum dan setelah menyantap jengkol, pastikan untuk banyak minum air putih agar tubuh lebih mudah mengeluarkan asam jengkolat.
- Kenali respons tubuh: Jika Anda pernah mengalami kejengkolan, sebaiknya hindari jengkol.
Dr. Davison menyarankan untuk memperlakukan jengkol sebagai makanan dengan potensi iritasi tinggi dan mengonsumsinya secara moderat. "Jangan dijadikan makanan sehari-hari, tapi tak perlu juga dimusuhi," ujarnya.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Kejengkolan?
Jika Anda merasakan nyeri setelah makan jengkol, jangan panik, tetapi jangan juga diabaikan.
Langkah awal di rumah:
- Minum air putih sebanyak mungkin (lebih dari 2 liter/hari).
- Hindari konsumsi obat antinyeri bebas sembarangan, terutama NSAID seperti ibuprofen.
- Kompres hangat area perut bawah jika nyeri.
Segera ke dokter jika muncul gejala seperti:
- Tidak bisa buang air kecil sama sekali.
- Urine berdarah pekat.
- Mual, muntah, atau demam.
Di rumah sakit, penanganan biasanya meliputi pemberian cairan infus, obat anti-inflamasi dan peluruh kristal, kateterisasi untuk membuka sumbatan, atau dalam kasus berat, tindakan operasi kecil.