Resmi Diproduksi Massal, Jet Tempur KF-21 Boramae Andalan Korea Selatan Siap Menggebrak Pasar Militer Internasional
- businesskorea.co.kr
VIVA, Banyumas – Industri pertahanan dunia kembali dikejutkan oleh langkah strategis Korea Selatan yang resmi memulai produksi skala penuh jet tempur generasi terbaru, KF-21 Boramae.
Keputusan ini menandai babak baru dalam sejarah kedirgantaraan negara tersebut, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan teknologi militer terkemuka di dunia.
Dengan target memproduksi 120 unit hingga tahun 2032, KF-21 diharapkan menjadi tulang punggung kekuatan udara Korea Selatan sekaligus kompetitor serius di pasar internasional.
Langkah besar ini bukanlah hasil dari proses instan, melainkan buah dari visi jangka panjang, investasi R&D yang masif, dan kolaborasi strategis antara berbagai pihak, termasuk Korea Aerospace Industries (KAI), Badan Pengembangan Pertahanan (ADD), dan ratusan perusahaan dalam negeri.
Kehadiran KF-21 Boramae di pasar global juga menjadi sinyal kuat bahwa Korea Selatan siap menantang dominasi produsen jet tempur besar dunia seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa, dengan menawarkan kombinasi keunggulan teknologi, efisiensi biaya, dan fleksibilitas operasional.
Perjalanan KF-21 dimulai dari ambisi Korea Selatan untuk bertransformasi dari produsen pesawat berlisensi menjadi pengembang jet tempur independen.
Pengalaman dari proyek T-50 Golden Eagle, yang dikembangkan bersama Lockheed Martin, menjadi batu loncatan penting.
Setelah sukses mengekspor T-50 dan varian FA-50 ke negara seperti Polandia, Irak, dan Filipina, KAI memiliki pondasi kuat untuk meluncurkan proyek ambisius KF-21.
Dilansir dari businesskorea.co.kr, Pada Juni 2024 kontrak produksi pertama untuk 20 unit KF-21 Block I disetujui, disusul kontrak kedua pada Juni 2025 untuk 20 unit tambahan.
Sebanyak 40 unit ini dijadwalkan masuk layanan Angkatan Udara Korea pada 2027–2028. Tahap berikutnya akan melibatkan produksi 60 unit Block II dengan fitur siluman lebih canggih dan pengangkut senjata internal.
Salah satu kekuatan terbesar proyek ini adalah keterlibatan lebih dari 250 perusahaan domestik dalam ekosistem industri pertahanan Korea Selatan.
Hanwha Systems mengembangkan radar AESA buatan lokal, LIG Nex1 menyediakan sistem peperangan elektronik dan rudal, sementara Air Air Korea bertanggung jawab pada komponen badan pesawat.
Integrasi ini tidak hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga memperkuat kemandirian teknologi.