Bukan Karena Bingung, Ini Penjelasan Cewek Bilang "Terserah" Saat Ditanya Mau Apa!
- Freepik
Viva, Banyumas – "Terserah": satu kata yang bikin laki-laki bingung total.Coba ingat, berapa kali kamu pernah nanya, “Mau makan apa?” dan dijawab dengan “Terserah”?
Namun, giliran kamu pilih, tiba-tiba dia bilang, “Yah, jangan itu.” Nah loh. Ini bukan sekadar soal pilih makan siang, ini soal komunikasi yang lebih dalam dari sekadar kata.
Secara psikologis, jawaban "terserah" sering kali jadi bentuk komunikasi pasif—apalagi di kalangan perempuan.
Mereka bukan berarti tidak punya pendapat, tapi lebih memilih untuk menyamankan suasana, menghindari konflik, atau merasa pendapatnya tidak akan terlalu dipertimbangkan.
Kadang juga karena lelah jadi decision-maker terus. Apalagi dalam relasi, perempuan sering ditempatkan sebagai pihak yang harus “ngikut” atau jaga perasaan pasangan.
Dalam buku yang berjudul "Personality and Individual Differences" (1992), Costa dan McCrae menyatakan bahwa perempuan secara konsisten menunjukkan tingkat "agreeableness" (kemampuan bersepakat) yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, perempuan lebih cenderung mengutamakan keharmonisan sosial daripada menyuarakan preferensi pribadi.
Fenomena ini punya akar dari pola asuh, budaya, sampai tekanan sosial. Dari kecil, banyak perempuan diajarkan untuk “ngalah” dan menghindari konfrontasi.
Akhirnya, kata "terserah" jadi semacam benteng halus yang digunakan untuk tetap punya suara… tapi nggak frontal.
Budaya dan Gender Role: Terserah Bukan Sekadar Soal Bingung
Kalau mau lebih dalam, kita harus lihat bagaimana budaya membentuk cara perempuan berkomunikasi.
Di banyak masyarakat, termasuk Indonesia, perempuan masih sering dibentuk untuk jadi pendengar, bukan pengambil keputusan.
Padahal, makin ke sini, perempuan sudah makin mandiri dan punya banyak opini. Tapi kebiasaan "menyembunyikan pendapat" ini masih terbawa.
Jawaban “terserah” sering jadi kode kalau mereka mau kamu peka, bukan asal ambil keputusan. Ini juga bisa berarti: “Aku pengen kamu ngerti tanpa aku harus jelasin.”
Ini bukan permainan, tapi bentuk harapan agar relasi berjalan dua arah dan saling baca situasi.
Peka Bukan Tebak-Tebakan
Dengan makin tingginya kesadaran soal komunikasi sehat dan kesetaraan gender, jawaban “terserah” sudah mulai dipertanyakan.