Anak Perfeksionis Sering Stres? Ini 5 Cara Jitu Agar Menerima Kegagalan Tanpa Stres

Ilustrasi anak sedang bermain dengan ibunya
Sumber :
  • Freepik

VIVA, Banyumas – Banyak orangtua mungkin bangga punya anak yang selalu ingin tampil sempurna, rajin, dan detail.

Dukung PHBS Warga, Pemkab Banyumas dan Yayasan Taharah Resmikan Fasilitas MCK di Pasar Kidul

Namun, di balik itu, ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian: anak-anak ini cenderung mudah cemas, stres, dan sulit merasa puas.

Mereka seringkali menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri, dan ketika gagal, mereka bisa merasa hancur.

Muncul Nama Baru, Rekan Senegara STY Diisukan Tangani Timnas Indonesia Andai Patrick Kluivert Out

Lantas, bagaimana cara kita, sebagai orangtua, untuk membantu mereka?

1. Ajarkan Konsep 'Cukup Baik' (Good Enough)

Bupati Banyumas Ungkap Gebyar Pendidikan Nonformal Jadi Kunci Kurangi Anak Tak Sekolah

Seorang psikolog perkembangan anak, Elizabeth Hartley-Brewer, dalam bukunya 'Raising a Perfect Child', menekankan pentingnya mengajarkan anak konsep 'cukup baik'.

Ini bukan berarti mendorong mereka menjadi malas, melainkan membantu mereka memahami bahwa tidak semua hal harus sempurna.

Sebagai contoh, jika anak menggambar, puji usahanya, bukan hanya hasilnya. Katakan, "Gambar kamu bagus sekali, Nak. Yang penting kamu sudah berusaha yang terbaik."

Hal ini akan mengurangi tekanan untuk selalu mencapai hasil yang sempurna dan membantu mereka fokus pada proses, bukan hanya pada hasil akhir.

2. Puji Usaha, Bukan Hanya Hasil

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Sulis Triyono, seringkali mengingatkan bahwa memuji proses jauh lebih penting daripada memuji hasil.

Ketika anak berhasil, jangan hanya katakan "Kamu pintar!" atau "Hebat, nilaimu 100!". Alih-alih, fokus pada kerja kerasnya. Katakan, "Wow, kamu tentunya belajar dengan giat ya, hingga bisa meraih nilai yang bagus seperti ini."

Dengan cara ini, anak akan menginternalisasi bahwa usaha dan ketekunan adalah hal yang paling berharga, bukan sekadar nilai atau pencapaian.

Ini akan membangun mentalitas bertumbuh (growth mindset) yang kuat pada mereka.

3. Beri Ruang untuk Melakukan Kesalahan

Anak perfeksionis sangat takut salah. Mereka melihat kesalahan sebagai kegagalan total. Di sini, peran orangtua adalah menciptakan lingkungan yang aman untuk berbuat salah.

Jangan langsung menyalahkan atau memarahi saat mereka membuat kesalahan.

Menurut Carol Dweck, psikolog dari Stanford University, kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Cobalah ajak anak untuk melihat kesalahan sebagai tantangan. Misalnya, "Tidak apa-apa kok kalau salah. Dari kesalahan ini, kita jadi tahu cara yang lebih baik."

Halaman Selanjutnya
img_title