412 Bank Sampah Aktif, Wonosobo Siap Cetak Sejarah Nol Sampah 2029
- Pemkab Wonosobo
Wonosobo dorong pengelolaan sampah berkelanjutan dengan 412 bank sampah aktif. Ditargetkan nol sampah 2029, didukung penuh KLHK dan transformasi TPA modern.
Viva, Banyumas - Pemerintah Kabupaten Wonosobo terus menunjukkan komitmen kuat dalam mewujudkan target pengurangan sampah hingga 100% pada tahun 2029. Salah satu langkah nyata yang kini menjadi perhatian publik adalah keberadaan 412 bank sampah aktif yang tersebar di berbagai desa dan kecamatan.
Keberadaan bank sampah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, tetapi juga menjadi sarana edukasi masyarakat untuk memilah, mendaur ulang, sekaligus mengubah sampah menjadi bernilai ekonomi.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak. Menurutnya, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendirian dalam mengatasi persoalan sampah.
“Edukasi dan aksi nyata harus digerakkan bersama, mulai dari rumah tangga, sekolah, desa hingga komunitas. Tanpa peran aktif masyarakat, target nol sampah 2029 akan sulit tercapai,” ujarnya dalam audiensi bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dilansir dari Pemkab Wonosobo.
Dukungan penuh KLHK juga memperkuat langkah Wonosobo. Plt. Direktur Pengelolaan Limbah B3 dan Non-B3 KLHK, Farid Mohammad, menyampaikan bahwa Wonosobo menjadi satu dari 17 daerah di Indonesia yang mendapat pendampingan langsung.
Bahkan, di Pulau Jawa hanya ada dua daerah yang masuk dalam program khusus pendampingan ini, yaitu Wonosobo dan Wonogiri. Hal ini tidak lepas dari transformasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Wonosobo yang berhasil beralih dari sistem kontrol landfill menuju sanitari landfill.
Transformasi tersebut dinilai menjadi tonggak penting karena sanitari landfill lebih ramah lingkungan, mampu mengurangi pencemaran, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah. Dengan sistem baru ini, potensi gas metana dapat dikendalikan, risiko longsor berkurang, dan lahan TPA bisa dimanfaatkan lebih optimal.
Hingga saat ini, lebih dari 50% sampah di Wonosobo sudah berhasil dikelola dengan baik. Melalui peran bank sampah dan program edukasi berkelanjutan, masyarakat didorong untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga.
Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk kompos, sedangkan sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah untuk didaur ulang atau dijual kembali. Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi kerakyatan.